Saat Belum Menikmati Hari Ini

Aku dari kecil orangnya nggak pernah puas sama diri sendiri atau malah menganggap aku tuh ‚kecil‘. Orang lain selalu lebih hebat dari aku dan aku biasa aja. Aku paling jago nyebutin kehebatan orang lain, tapi payah banget nyebutin kelebihanku. Ini mungkin salah satu pengaruh dari pola asuh di keluargaku. Dari kecil aku selalu dibandingkan dengan sepupu lain yang lebih hebat, lebih rajin, lebih kalem, dan lebih ke‘cewek‘an dariku. Saat aku berhasil dianggap biasa aja, tapi saat aku kalah sama yang lain disebut-sebut terus 🙈

Ini mungkin salah satu sebab kenapa kepercayaan diriku dulu payah banget. Karena disekeliling kita ya emang banyak banget orang-orang hebat. Dan keluargaku berharap aku juga jadi salah satu orang hebat itu. Makanya mereka membandingkanku dengan orang lain, yang mungkin tujuan sebenernya untuk menyemangatiku. Tapi sayangnya itu tidak memotivasiku sama sekali. Terlalu banyak kritik ke diriku malah bikin aku jadi nggak punya rasa percaya diri. Kepercayaan diriku mulai tumbuh saat mulai tinggal di Jerman dan juh dari kebisingan siapa yang lebih hebat di keluargaku.

Aku bukannya mau nyalahin pola asuh itu. Iya… pernah ada waktu aku tuh sedih, kecewa atau bahkan marah dengan kejadian2 negatif yang aku alamin dulu, Tapi sekarang aku udah jauh lebih mengerti, kalau jaman dulu tuh akses pengetahuan sedikit banget. Orang tuaku juga punya trauma sendiri dan mereka juga kadang galau sendiri. Mendidik anak toh tidak mudah.

Yang aku sadar sekarang adalah dengan semua yang aku alamin dulu baik itu positif atau negatif, itu membentuk aku yang sekarang. Manusia bisa tumbuh biasanya karena pengalaman-pengalam negatif, bukan positif, Manusia bisa kuat karena ada masalah dalam hidupnya. Karena itu sekarang aku berterima kasih untuk semua pengalaman baik dan buruk yang pernah aku alami.

Menyalahkan masa lalu itu gampang banget dan aku sempat ada di situasi itu. Kalau ada kejadian tidak mengenakan, aku langsung mencari apa yang salah di masa lalu dan mulai menyalahkan masa lalu. Hasilnya hidupku nggak tenang dan selalu dalam bayangan masa lalu. Aku jadi orang yang tidak optimis. Puncak kemarahanku pada masa lalu itu saat aku menghadapi baby blues setelah melahirkan Jasper. Aku marah sama masa laluku…

Dan akhirnya aku sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres. Aku mulai mengevaluasikan semua tentang diriku: masa lalu, masa sekarang, perasaanku, ketakutanku, keluargaku, semuanya… Sampai pada satu titik aku sadar, kalau masa lalu itu tidak bisa dirubah. Kalaupun kita marah sama masa lalu, masa lalu itu tetap tidak akan berubah. Demikianpun dengan masa depan. Seresah atau setakut apapun aku dengan berpikir tentang masa depan, kita tetap tidak tau apa yang akan terjadi. Itulah masa dimana aku memulai belajar ‚Menikmati Hari Ini‘.

Saat aku belajar fokus dengan masa ini, hidupku lebih tenang. Keresahanku hanya sebatas dengan masalah-masalah yang ada hari ini, bukan masa lalu atau masa depan. Dengan itu juga bisa lebih fokus untuk memikirkan solusi-solusi masalah saat ini, bukan solusi untuk masalah yang sudah lewat atau belum datang.

Ini bukan tentang tidak peduli dengan masa depan, tapi lebih mencoba fokus untuk masa sekarang. Contoh:

1. Saat kerja kita bolos terus, tanpa meresahkan masa depan. Yang penting nikmati hari ini. Tapi ya jangan heran juga kalo suatu saat kita malah dipecat.

2. Saat kerja kita fokus dan bekerja semaksimal mungkin. Kita memberikan yang terbaik yang kita bisa, menikmati pekerjaan dengan tanggung jawab. Kita menikmati hari dan nggak perlu meresahkan masa depan. Nggak perlu resah juga akan dipecat atau tidak, karena kita sudah memberikan yang terbaik.

Kasus 1 dan 2 tentu berbeda. Dua-duanya fokus pada hari ini tapi dengan perilaku yang berbeda. Kadang saat kita sudah memberikan yang terbaik, tetap saja datang pengalaman negatif. Ada faktor LUCK yang nggak bisa kita hindari. Nanti aku bahas juga tentang faktor LUCK ini menurut pandanganku. Yang penting saat hal negatif ini datang, aku tidak lagi menyalahkan masa lalu. Aku fokus pada masa ini dan mencoba menyelesaikan masalahnya. Tujuanku hanya satu, biar aku hidup tenang 😌😌

Getaggt mit , , , , ,

6 Gedanken zu „Saat Belum Menikmati Hari Ini

  1. Messa sagt:

    Membaca ini bikin aku terharu dan pengen peluk kamu mbak 🥲🥲 aku pun sedang belajar menjalani hidup ‘untuk hari ini dan saat ini’, karena yg kita miliki sebetulnya hanyalah ‘sekarang atau saat ini’. Sama2 kita belajar melakukan yg terbaik hari ini ya mbak. Thank you 😊

  2. Sebenarnya aku tu punya masa lalu yg mirip dengan kisahmu lho… Lahir dikeluarga yang punya sepupu lebih dari gue… Apa2 dibandingin dan apa2 selalu diremehin. Tapi bedanya aku tuh jadinya tumbuh dengan perasaan bodo amat, jadinya merasa sia2 banget usaha, mending ga usah usaha… Mending jd org dibalik layar aja… Puncaknya ketika aku ga diizinkan kuliah diluar dengan alasan nilai lu biasa2 aja. Pas aku kuliah, nilaiku tuh termasuk tinggi dan mamaku mulai muji2 tapi aku tuh hambar rasanya… Jadinya berasa komen ortu tuh ya udah biasa aja gitu… Ga juga berasa butuh membuktikan apa2 sama ortu. Malah semenjak jadi ortu baru gue berasa mau membuktikan sama suami dan anak2ku kalau aku bisa menjadi yang terbaik… Memang hidup itu kadang2 aneh ya.. 😁

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s

%d Bloggern gefällt das: