Schlagwort-Archive: mindfulness

Perasaan Negatif

Belakangan ini saya banyak cerita tentang cara menjalani ‚Menikmati Hari Ini‘. Tujuannya bukan untuk menjadi bahagia selalu tanpa perasaan negatif, tapi lebih bagaimana menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Dengan ‚Menikmati Hari Ini‘ saya lebih banyak merasakan kebahagiaan dengan hal-hal kecil dikehidupan sehari-sehari. Perasaan bahagia yang sering ini yang mempersempit ruang untuk merasakan perasaan negatif.

Saat kalian menjadikan kebahagian sebagai tujuan, biasanya ruang untuk perasaan negatif akan jadi lebih besar. Akan lebih banyak perasaan gelisah, takut, cemas, dll selama tujuan belum tercapai. Apalagi kalau tujuanmu itu jauh dijangkau dan tidak konkret. Padahal perasaan itu 90% atau lebih hanya dipikiran saja. Saat kita fokus kepada kebahagiaan kecil disekeliling kita, maka pikiran kita lebih fokus pada hal positif daripada hal negatif.

Bukan berarti perasaan negatif itu menghilang 100%. Perasaan negatif itu akan tetap ada, tapi frekuensi kedatangannya lebih jarang dan proses mengelolanya juga lebih mudah dan lebih cepat menghilang.

Menurut saya… Perasaan negatif itu bagian dari perasaan positif. Kalau kita tidak tau yang namanya sedih, bagaimana kita tau apa itu bahagia? Kalau kita tidak tau yang namanya gelap, bagaimana kita tau ada terang?

Lalu bagaimana saya mengelola perasaan negatif yang saya rasakan?

Pertama saya mencari tau perasaan apa itu: takut, cemas, marah atau sedih?

Kedua saya berusaha mencari tau kenapa ada perasaan itu? Bisakah saya merubah keadaan jadi lebih baik? Atau saya harus mengubah cara pandang saya? Banyak hal yang sebenernya tidak negatif, tapi karena kita terlalu keras dengan diri kita dan membuat perasaan negatif jadi sering muncul.

Kalau perasaan negatif sedang datang, saya biasanya berusaha cari waktu untuk beristirahat. Nggak perlu lama, hanya butuh beberapa menit. Biasanya sambil menikmati minuman yang hangat saya berusaha mengerti dan merasakan perasaan negatif itu. Pada akhirnya saya membuat keputusan antara mencari solusi untuk keluar dari perasaan negatif itu atau let it go.

Nggak semua masalah ada solusinya, kadang kita harus belajar nemerima keadaan. Menerima keadaan bukan berarti fokus pada perasaan negatif, tapi hanya mengubah pandangan saja. Contoh: Kamu tidak suka kerjaan kamu, tapi saat ini kamu tidak punya solusi lain. Saya pernah ada diposisi ini beberapa tahun yang lalu. Kerjaan baru saya waktu itu numpuk nggak ada abisnya dan bikin saya ketar ketir, cemas dan banyak perasaan negatif lainnya. Cari kerjaan baru juga nggak mudah dan saya tidak mau menyerah semudah itu. Waktu itu juga gajinya oke, fasilitasnya oke dan jam kerjanya juga flexibel. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menerima keadaan dan saya belajar bikin prioritas apa yang penting dan apa yang bisa ditunda. Kalau perusahaan tidak puas, ya dia harus tambah pelerja lagi. Tidak sedikit kolega saya yang akhirnya malah burn out dan memutuskan cari pekerjaan lain.

Pada akhirnya saya bisa mengubah pandangan saya dan saya bisa fokus pada hal-hal positif diperusahaan tersebut. Lalu lama-lama saya melupakan melupakan hal-hal negatif. Dan… Saya bertahan hampir lima tahun disana 🙂 Bukannya perusahaannya yang jadi lebih baik, tapi saya yang berkembang 😇

Kenapa saya berhenti kerja disana? Karena sekarang prioritas dan kebutuhan saya berubah 🙂

Intinya perasaan negatif itu ada dan nyata. Kita harus belajar bagaimana mengolanya, bukan menghindarinya. Selamat menikmati hari ini ♥️

Getaggt mit , , ,

Saat Belum Menikmati Hari Ini

Aku dari kecil orangnya nggak pernah puas sama diri sendiri atau malah menganggap aku tuh ‚kecil‘. Orang lain selalu lebih hebat dari aku dan aku biasa aja. Aku paling jago nyebutin kehebatan orang lain, tapi payah banget nyebutin kelebihanku. Ini mungkin salah satu pengaruh dari pola asuh di keluargaku. Dari kecil aku selalu dibandingkan dengan sepupu lain yang lebih hebat, lebih rajin, lebih kalem, dan lebih ke‘cewek‘an dariku. Saat aku berhasil dianggap biasa aja, tapi saat aku kalah sama yang lain disebut-sebut terus 🙈

Ini mungkin salah satu sebab kenapa kepercayaan diriku dulu payah banget. Karena disekeliling kita ya emang banyak banget orang-orang hebat. Dan keluargaku berharap aku juga jadi salah satu orang hebat itu. Makanya mereka membandingkanku dengan orang lain, yang mungkin tujuan sebenernya untuk menyemangatiku. Tapi sayangnya itu tidak memotivasiku sama sekali. Terlalu banyak kritik ke diriku malah bikin aku jadi nggak punya rasa percaya diri. Kepercayaan diriku mulai tumbuh saat mulai tinggal di Jerman dan juh dari kebisingan siapa yang lebih hebat di keluargaku.

Aku bukannya mau nyalahin pola asuh itu. Iya… pernah ada waktu aku tuh sedih, kecewa atau bahkan marah dengan kejadian2 negatif yang aku alamin dulu, Tapi sekarang aku udah jauh lebih mengerti, kalau jaman dulu tuh akses pengetahuan sedikit banget. Orang tuaku juga punya trauma sendiri dan mereka juga kadang galau sendiri. Mendidik anak toh tidak mudah.

Yang aku sadar sekarang adalah dengan semua yang aku alamin dulu baik itu positif atau negatif, itu membentuk aku yang sekarang. Manusia bisa tumbuh biasanya karena pengalaman-pengalam negatif, bukan positif, Manusia bisa kuat karena ada masalah dalam hidupnya. Karena itu sekarang aku berterima kasih untuk semua pengalaman baik dan buruk yang pernah aku alami.

Menyalahkan masa lalu itu gampang banget dan aku sempat ada di situasi itu. Kalau ada kejadian tidak mengenakan, aku langsung mencari apa yang salah di masa lalu dan mulai menyalahkan masa lalu. Hasilnya hidupku nggak tenang dan selalu dalam bayangan masa lalu. Aku jadi orang yang tidak optimis. Puncak kemarahanku pada masa lalu itu saat aku menghadapi baby blues setelah melahirkan Jasper. Aku marah sama masa laluku…

Dan akhirnya aku sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres. Aku mulai mengevaluasikan semua tentang diriku: masa lalu, masa sekarang, perasaanku, ketakutanku, keluargaku, semuanya… Sampai pada satu titik aku sadar, kalau masa lalu itu tidak bisa dirubah. Kalaupun kita marah sama masa lalu, masa lalu itu tetap tidak akan berubah. Demikianpun dengan masa depan. Seresah atau setakut apapun aku dengan berpikir tentang masa depan, kita tetap tidak tau apa yang akan terjadi. Itulah masa dimana aku memulai belajar ‚Menikmati Hari Ini‘.

Saat aku belajar fokus dengan masa ini, hidupku lebih tenang. Keresahanku hanya sebatas dengan masalah-masalah yang ada hari ini, bukan masa lalu atau masa depan. Dengan itu juga bisa lebih fokus untuk memikirkan solusi-solusi masalah saat ini, bukan solusi untuk masalah yang sudah lewat atau belum datang.

Ini bukan tentang tidak peduli dengan masa depan, tapi lebih mencoba fokus untuk masa sekarang. Contoh:

1. Saat kerja kita bolos terus, tanpa meresahkan masa depan. Yang penting nikmati hari ini. Tapi ya jangan heran juga kalo suatu saat kita malah dipecat.

2. Saat kerja kita fokus dan bekerja semaksimal mungkin. Kita memberikan yang terbaik yang kita bisa, menikmati pekerjaan dengan tanggung jawab. Kita menikmati hari dan nggak perlu meresahkan masa depan. Nggak perlu resah juga akan dipecat atau tidak, karena kita sudah memberikan yang terbaik.

Kasus 1 dan 2 tentu berbeda. Dua-duanya fokus pada hari ini tapi dengan perilaku yang berbeda. Kadang saat kita sudah memberikan yang terbaik, tetap saja datang pengalaman negatif. Ada faktor LUCK yang nggak bisa kita hindari. Nanti aku bahas juga tentang faktor LUCK ini menurut pandanganku. Yang penting saat hal negatif ini datang, aku tidak lagi menyalahkan masa lalu. Aku fokus pada masa ini dan mencoba menyelesaikan masalahnya. Tujuanku hanya satu, biar aku hidup tenang 😌😌

Getaggt mit , , , , ,

Menikmati Hari Ini

Sudah hampir setahun ini aku menjalani motto kehidupan: Menikmati Hari Ini. Belajar untuk nggak menyesali masa lalu, tidak memusingkan masa depan, tapi menikmati hari ini dan fokus pada saat ini. Dan ternyata itu nggak mudah, tapi sejak mulai menerapi hal ini setiap hari hidupku jadi makin tenang 😌

Salah satu yang aku jalani tentunya ‚Menikmati Hari Ini‘ dengan anak-anak. Aku banyak banget berdikusi sama Matt (namanya aku singkat aja ya), gimana biar fokus antara keluarga dan diri sendiri itu seimbang. Bukan cuma mikirin anak terus dan anak selalu jadi prioritas utama. Berfokus pada diri sendiri itu juga penting dan itu bukan egois. Dengan menyeimbangkan kepentingan masing-masing, membuat kami sekeluarga juga bahagia.

Saat aku berdiskusi ini, pertanyaan pertama yang kita bahas adalah hal-hal penting apa yang tidak bisa ditoleransi sama aku dan Matt. Contohnya untuk aku adalah kerja. Aku harus kerja biar aku tetep waras 🙂 Aku harus punya kegiatan lain selain beresin rumah, masak dan jagain anak. Itu point terpentingku.

Lalu aku menganalisa:

Gimana kerjaanku sebelum cuti melahirkan ini?

Apa aku puas?

Apa aku bisa bagi waktu dengan keluarga, kalau aku balik kerja yang dulu?

Apa ada opsi untuk kerja part-time?

Apa masih ada sesuatu yang aku inginkan?

Dan masih banyak pertanyaan lain yang semuanya tentang aku. Aku selalu mulai memikirkan sesuatu dengan fokus pada diriku dulu. Dan ini menurutku ini nggak egois! Karena setelah tau apa yang aku mau, aku bisa bikin prioritas: Apa yang bisa dilakukan sekarang, apa yang bisa diubah dan apa yang masih harus ditunda.

Setelah aku tau apa yang aku mau, baru aku mulai memikirkan: Apakah keinginanku baik untuk keluargaku? Apakah aku bisa bagi waktu dengan keluarga? Siapa yang mengerjakan perkerjaan rumah tangga? Kapan bagi waktu untuk anak? Kalau anak sakit, siapa yang bisa jagain anak?

Proses kedua ini pokoknya semua yang bersangkutan dengan keluarga inti (suami dan anak-anak). Semua yang ada dipikiranku ini selalu aku bagi sama Matt. Jadi dari awal dia selalu aku libatkan dalam semua pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil keputusan. Begitu pula dengan Matt yang selalu melibatkan aku. Setelah itu aku dan Matt mengambil keputusan yang kami yakin itu terbaik untuk keluarga kami.

Keputusan yang kami ambil nggak selamanya memuaskan, tapi kami percaya keputusan kami adalah pilihan terbaik untuk kami dan anak-anak. Dan setiap keputusan itu pasti ada konsekuensinya. Tentunya sebelum mengambil keputusan, kami pikirin juga plus dan minusnya. Jadi kita bisa meminimalisirkan kemungkinan menyesal kemudian hari.

Dan kunci utamanya adalah komunikasi. Ini merupakan sesuatu yang perlu aku pelajari banget, karena aku dari kecil nggak biasa ngungkapin perasaan dan keinginanku. Tapi sejak lebih bisa berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan, hidupku jadi lebih tenang 😌

Saat aku udah menemukan jawaban, apa yang aku mau, aku langsung mencari peluang-peluang yang ada. Hingga aku memutuskan untuk balik kerja lagi dari awal September kemarin, tapi di perusahaan baru. Banyak banget yang heran dan bertanya kok malah keluar dari comfort zone, bukannya lebih aman kalo balik ke tempat kerja yang lama, dll. Ya aku jawabnya hanya kalau ini semua udah dipertimbangkan baik dan buruknya untuk aku dan keluargaku. Dan kami sampai dikeputusan kalau mulai ditempat yang baru akan lebih baik kedepannya untuk aku dan keluargaku 🙂

Sejak mulai ditempat yang barupun aku nggak membandingkan dengan yang lama. Aku menikmati hal-hal baru yang bisa aku pelajari. Aku menikmati waktu setelah kerja dengan anak-anakku. Dan aku memutuskan untuk tidak merisaukan masa depan. Aku menikmati hari ini 😌

Getaggt mit , , , ,